Tampilkan postingan dengan label akut. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label akut. Tampilkan semua postingan

06 November 2009

Reaksi Akut Transfusi Darah


Reaksi akut adalah reaksi yang terjadi selama transfusi atau dalam 24 jam setelah transfusi. Reaksi akut dapat dibagi menjadi tiga kategori yaitu ringan, sedang-berat dan reaksi yang membahayakan nyawa. Reaksi ringan ditandai dengan timbulnya pruritus, urtikaria dan rash. Reaksi ringan ini disebabkan oleh hipersensitivitas ringan. Reaksi sedang-berat ditandai dengan adanya gejala gelisah, lemah, pruritus, palpitasi, dispnea ringan dan nyeri kepala. Pada pemeriksaan fisis dapat ditemukan adanya warna kemerahan di kulit, urtikaria, demam, takikardia, kaku otot. Reaksi sedang-berat biasanya disebabkan oleh hipersensitivitas sedang-berat, demam akibat reaksi transfusi non-hemolitik (antibodi terhadap leukosit, protein, trombosit), kontaminasi pirogen dan/atau bakteri.

Pada reaksi yang membahayakan nyawa ditemukan gejala gelisah, nyeri dada, nyeri di sekitar tempat masuknya infus, napas pendek, nyeri punggung, nyeri kepala, dan dispnea. Terdapat pula tanda-tanda kaku otot, demam, lemah, hipotensi (turun ≥20% tekanan darah sistolik), takikardia (naik ≥20%), hemoglobinuria dan perdarahan yang tidak jelas. Reaksi ini disebabkan oleh hemolisis intravaskular akut, kontaminasi bakteri, syok septik, kelebihan cairan, anafilaksis dan gagal paru akut akibat transfusi.


Referensi

Rahardjo E, Sunatrio, Mustafa I, Gatot D. Indikasi Transfusi Komponen Darah dalam: Transfusi Komponen Darah: Indikasi dan Skrining. HTA Indonesia: 2003, hal 21

13 September 2009

Glaukoma Akut Pada Layanan Kesehatan Primer


Glaucoma akut adalah neuropati optik yang diakibatkan oleh peningkatan tekanan intra ocular. Glaucoma akut merupakan salah satu kegawatan dalam penyakit mata. Penanganan segera perlu dilakukan terutama pada pelayanan kesehatan primer.

Evaluasi

Pemeriksaan dengan senter dan lup

· Tajam penglihatan kurang

· Mata merah, bengkak, mata berair

· Kornea suram karena edema

· Bilik mata depan dangkal dan pupil lebar

· Tekanan intra okuler meningkat, dibuktikan dengan tonometri schiotz ataupun teknik palpasi (tidak dianjurkan karena terlalu subjektif) bola mata teraba lebih keras daripada mata normal atau dari mata sebelahnya.

· Nyeri, pusing, bahkan mual-muntah


Penatalaksanaan

Pertolongan pertama adalah dengan menurunkan TIO secepatnya dengan memberikan serentak obat-obatan yang terdiri dari

· Asetazolamid HCL 500mg, dilanjutkan 4 x 250mg /hari

· KCL 3 x 0,5 g/hari

· Timolol 0,5% 2 x 1 tetes / hari

· Terapi simptomatik

Rujuk segera ke pelayanan tingkat sekunder/tersier


Referensi

James B, Chew C, Bron A. Lecture Notes Oftalmologi. Ed 9. EMS: Jakarta. 2005

Gondowihardjo T, Simanjuntak G. editor. Glaukoma Akut dalam Panduan Manajemen Klinis Perdami. PP Perdami: Jakarta. 2006

EIDCP mempersembahkan blog ini bagi para dokter umum, dokter spesialis, mahasiswa kedokteran dan tenaga medis yang ingin mengetahui update terbaru pengetahuan ataupun kemampuan manajemen keadaan kegawatdaruratan medis. Semua artikel telah di review oleh dewan Ilmiah EIDCP bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia.

Diberdayakan oleh Blogger.

Support

join grup facebook

Sponsors

Share on Facebook

video